Memahami Landasan Perencanaan Kurikulum Merdeka sebagai Kerangka Dasar

Landasan Perancangan Kurikulum Merdeka Belajar Permendikbud Ristek No. 12 Tahun 2024

Loading

KurikulumMerdeka. Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum (kurikulum Merdeka) pada PAUD dan pendidikan dasmen menjelaskan komponen kerangka dasar. Salah satunya yaitu landasan perencanaan kurikulum merdeka.

1. Landasan Filosofis Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka memiliki landasan pada cita-cita kemerdekaan dan falsafah Pancasila yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia yang berdasar pada:

  • Ketuhanan Yang Maha Esa,
  • Kemanusiaan yang adil dan beradab,
  • Persatuan Indonesia, dan
  • Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
  • dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara lebih operasional pandangan filosofi pendidikan dalam rangka pengembangan Kurikulum Merdeka berdasarkan pada kerangka pemikiran Ki Hajar Dewantara, terutama terkait membangun manusia merdeka, yaitu manusia yang secara lahir atau batin tidak bergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Pembelajaran mengarah untuk memerdekakan, membangun kemandirian, dan kedaulatan Peserta Didik, namun dengan tetap mengakui otoritas Pendidik. Pendidikan maksudnya agar Peserta Didik kelak sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi- tingginya.

Berdasarkan pertimbangan di atas, berikut poin landasan filosofis Kurikulum Merdeka:

  1. pendidikan nasional Indonesia mendorong tercapainya kemajuan dengan berpegang dan mempertimbangkan konteks Indonesia, terutama akar budaya Indonesia.
  2. pendidikan nasional Indonesia diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang holistik, yang dapat mengoptimalkan potensi diri dengan baik, untuk tujuan yang lebih luas dan besar.
  3. pendidikan nasional Indonesia responsif terhadap perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
  4. keseimbangan antara penguasaan kompetensi dan karakter Peserta Didik.
  5. keleluasaan Satuan Pendidikan dalam menyusun Kurikulum operasional berdasarkan kurikulum merdeka dan mengimplementasikannya.
  6. pembelajaran perlu melayani keberagaman dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan Peserta Didik.
  7. pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dalam suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.
  8. Pendidik memiliki otoritas dalam mendidik Peserta Didik dan mengimplementasikan Kurikulum dalam pembelajaran.

2. Landasan Sosiologis

berdasarkan landasan sosiologis, Kurikulum Merdeka memberikan dasar pengetahuan, kecakapan, dan etika untuk merespons realitas revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0.

Adapun maksud dari kecakapan adalah kecakapan yang relevan di abad 21. Era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0

juga membutuhkan lingkungan belajar yang saling terhubung yang menginspirasi imajinasi, memicu kreativitas, dan memotivasi Peserta Didik. Konteks nasional Indonesia dengan keragaman sosial, budaya, agama, etnis, ras, dan daerah, yang merupakan kekayaan yang potensial namun juga dapat mengalami berbagai isu.

Kurikulum Merdeka sebagai upaya merespons dan berkontribusi memecahkan masalah sosial melalui pendidikan.

Muatan Kurikulum Merdeka terkait karakter, nilai-nilai, etos kerja, berpikir ilmiah, dan akal sehat, perlu penekanan. Dan Kurikulum Merdeka juga menekankan pentingnya desain fleksibilitas dalam penerapan pembelajaran, agar Peserta Didik mempelajari hal yang relevan terjadi di lingkungan sekitarnya, dengan tetap mempromosikan perdamaian untuk isu suku, agama, ras, dan antargolongan, kesetaraan gender, dan isu kontekstual lainnya.

Kurikulum Merdeka merancang penyiapan Peserta Didik sebagai warga dunia.

Kurikulum Merdeka tidak terlepas dari dinamika dan isu-isu global. Peserta Didik diasah sensitivitas sosialnya atas masalah yang terjadi di berbagai belahan dunia lain, termotivasi untuk belajar beragam budaya yang berbeda-beda, dan terdorong untuk berkontribusi bagi kehidupan dunia yang lebih baik.

Kurikulum Merdeka juga menekankan pembelajaran yang ekologis, interkultural, dan interdisiplin untuk transformasi sosial yang lebih adil dan masa depan yang berkelanjutan.

3. Landasan Psikopedagogis

Landasan psikopedagogis merupakan landasan yang memberikan dasar Kurikulum Merdeka terkait proses manusia belajar dan berkembang.

Penggabungan teori psikologi perkembangan dan pedagogi maksudnya untuk memastikan bahwa pengalaman belajar sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas Peserta Didik.

Peserta Didik berposisi sebagai pelaku aktif pembelajaran, dengan memperhatikan tingkat perkembangan dan hal- hal yang dapat mendukung kemajuan belajar Peserta Didik.

Teori yang menjadi landasan psikopedagogi Kurikulum Merdeka yaitu: (1) teori perkembangan, (2) teori pembelajaran, (3) teori kompetensi emosional/ kejiwaan, dan (4) teori motivasi.

itulah tiga poin yang menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum merdeka sebagai kerangka dasar.


Sumber: BukuYunandra.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *