Tujuan Kurikulum Merdeka pada Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024

Tujuan Kurikulum Merdeka Belajar Permendikbud Ristek No. 12 Tahun 2024

Loading

Kurikulummerdeka. Pada lampiran 1 di Permendikbudristek no. 12 Tahun 2024 bahwa tujuan kurikulum merdeka adalah mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia serta menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa Peserta Didik sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila.

Tujuan merupakan salah satu dari komponen kerangka dasar kurikulum merdeka. Adapun Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pengertian Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberi fleksibilitas dan berfokus pada materi esensial untuk mengembangkan kompetensi peserta didik sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila.

Baca: Kerangka Dasar Kurikulum Merdeka Menurut Permendikbudristek No.12 Tahun 2024

Tujuan Kurikulum Merdeka

Berdasarkan lampiran 1 Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024, Tujuan kurikulum merdeka dapat dijelaskan sebagai berikut

1. Pembelajaran Bermakna

Kurikulum merdeka memberikan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Pengertian pembelajaran bermakna menurut para ahli

  1. Robert Marzano: Menurut Marzano, pembelajaran bermakna adalah proses belajar yang melibatkan pemahaman yang mendalam, di mana siswa membuat koneksi antara konsep-konsep baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan pengalaman hidup mereka.
  2. David Ausubel: Menurut Ausubel, pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa mengaitkan materi baru dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki sebelumnya, sehingga memungkinkan mereka untuk mengonstruksi pengetahuan baru secara lebih berarti dan tahan lama.
  3. Jean Piaget: Piaget menyatakan bahwa pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa secara aktif terlibat dalam proses konstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui eksplorasi, eksperimen, dan refleksi atas pengalaman mereka.
  4. Jerome Bruner: Menurut Bruner, pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa membangun struktur kognitif mereka sendiri dengan mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam pikiran mereka, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih dalam dan berkelanjutan.

2. Pembelajaran efektif

Pembelajaran efektif adalah proses pembelajaran yang berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memaksimalkan pemahaman, retensi, dan aplikasi pengetahuan oleh siswa. Berikut adalah beberapa definisi dari para ahli pendidikan:

  • Benjamin Bloom: Bloom mengemukakan bahwa pembelajaran efektif melibatkan proses kognitif tingkat tinggi, termasuk analisis, sintesis, dan evaluasi, yang memungkinkan siswa untuk memahami, mengingat, dan menerapkan konsep-konsep yang dipelajari.
  • John Hattie: Hattie menekankan pentingnya faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran dalam mencapai hasil yang maksimal. Menurutnya, pembelajaran efektif melibatkan faktor-faktor seperti umpan balik yang efektif, ekspektasi yang tinggi, dan pengajaran yang terstruktur dengan baik.
  • Robert Gagné: Gagné menyatakan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika materi disajikan dalam urutan yang logis dan memperhitungkan kebutuhan individual siswa, serta menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  • William Glasser: Glasser berpendapat bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika siswa merasa memiliki kontrol atas pembelajaran mereka sendiri dan dihadapkan pada tantangan yang relevan dengan kehidupan mereka, sehingga memotivasi mereka untuk belajar dengan maksimal.

Baca: Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 Kurikulum Merdeka Pada PAUD dan Pendidikan Dasar dan Menengah

3. Peningkatan Keimanan, Ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa, dan Berakhlak Mulia

Pembelajaran bermakna dan efektif dalam rangka meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Menurut Profil pelajar Pancasila termasuk dimensi pertama yang memiliki 5 elemen yaitu akhlak beragama, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara

4. Menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa

Kurikulum merdeka bertujuan untuk menyiapkan sebuah pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan intelektual siswa (cipta), tetapi juga pada aspek-aspek emosional dan spiritual (rasa), serta kemampuan untuk bertindak dan berkarya (karsa).

  • Cipta: Merujuk pada kemampuan siswa untuk berpikir kreatif, berinovasi, dan berimajinasi. Ini melibatkan kemampuan untuk memecahkan masalah, menghasilkan ide-ide baru, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks yang berbeda.
  • Rasa: Mengacu pada aspek emosional dan spiritual dari siswa. Ini termasuk pengembangan kepekaan terhadap nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual, serta kemampuan untuk mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, dan memiliki empati.
  • Karsa: Merujuk pada kemampuan siswa untuk bertindak, berkarya, dan mengimplementasikan ide-ide mereka dalam tindakan nyata. Ini mencakup pengembangan keterampilan praktis, keterampilan sosial, serta kemampuan untuk bekerja sama dalam tim dan berkontribusi pada masyarakat.

5. Pelajar sepanjang hayat

Pelajar sepanjang hayat artinya peserta didik yang terus belajar tidak hanya di sekolah atau formal pendidikan, tetapi melakukan proses yang berkelanjutan sepanjang hidupnya.

Peserta didik terus menerus mencari, memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk di tempat kerja, dalam kegiatan sehari-hari, dan melalui pengalaman hidup.

6. Berkarakter Pancasila

Karakter Pancasila digambarkan menjadi Profil Pelajar Pancasila yang terdiri dari 6 dimensi yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan global, Gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.


Sumber: Bukuyunandra.com